Payung Merah

18.35 wib

Malam ini aku begitu menikmati perjalanan pulang kantor. Tidak seperti malam-malam sebelumnya.
Sejak sore tadi kota belimbing ini di guyur hujan begitu deras dan malam ini masih menyisakan rintik-rintik gerimis.

Menyusuri jalan raya dibawah rintik hujan dan berpayung, sungguh aktivitas sederhana yang membuatku begitu bahagia. Indah.

Mataku terus memandang jelak kaki-kaki pejalan yang berjalan terburu-buru sehingga menghasilkan ciprat-cipratan kecil, dan para pengendara motor yang begitu cepat melajukan motornya.
Aku berbeda dengan kebanyakan. Aku berjalan santai menikmati setiap rintik yang jatuh dari ujung payung.

Payung ini membawaku pada masa silam

                                                                            ***

Hujan sore itu begitu deras disertai angin kencang.
Dikamar kosan kusibukkan diri dengan membaca novel, terderangar suara singkat dari hp, kulihat nama orang kesayang dilayar. Segera ku buka keypad hp.

” Honey, hujannya deres banget, sejak tadi aku neduh depan Indomaret. Si Vespa aku parkir di Golden, bolehkah aku beli payung??”

Tak lama setelah selesai kubaca, pesan singkat kembali muncul di layar.

” Ini foto payungnnya, kamu sukakan Sayang?” Disetai foto payung yg masih tebungkus di pembungkus transfaran. Warna merah polkadot.
” Aku ketemu teman-teman pake angkot saja ya Say, karena hujannya deres dan kemungkinan akan lama reda, kasian teman-teman nunggu lama.” Pesannya kepadaku.

Aku tau pada saat itu Ia tak memiliki jas hujan.

Kujawab singkat, ” Iya Sayang boleh, hati-hati ya sayang. Salam untuk teman-teman :* “

Pada saat itu aku perempuan paling cemburu jika ia terpaksa harus jalan dengan teman-teman wanitanya.

                                                                          ***

18.38 wib

Hujan masih gerimis, aku masih berjalan di pundak kiri jalan, tak lama aku sudah berada di gang kosan.
Perjalanan malam yang indah. Karena payung ini. Karena gerimis malam ini.

Aku terus berjalan dalam senyum berbalut kenangan sederhana.
Orang Kesayangan yang kini entah dimana keberadaanya, tak ada lagi yang meminta persetujuanku untuk hal kecil sekalipun.

Payung ini miliknya. Salah satu benda yang Ia berikan kepadaku. Ia seolah tau jika suatu saat nanti akan akan kehujanan Rindu yang begitu deras. Dan hujan itu adalah malam ini.

18.39 wib

Kunaiki tangga menuju kamar kosan, kuletakkan payung di balkon kamar, kupandang langit malam. Hanya rintik hujan yang tersinar oleh cahaya lampu.
Lamat-lamat kupandangi langit malam, semakin lama kupandang semakin jelas wajamu terlukis disana. Tersimpul senyum di wajah. kamar terkunci.
Image

METAMORFOSA HUJAN

udah lama ya tidak hujan. Apakah di tempatmu sudah hujan ? ah, senangnya. Karena sampai hari ini, di tempatku belum hujan juga.

Pernah ngga memperhatikan metamorfosa langit saat hujan. .?

Langit terang awalnya. Lalu Awan mendung mengundang hitam. Langit bergemuruh. Guntur dan petir saling sahut dan saling menyambar. Merangsang Awan untuk segera menumpahkan hujan. Terkadang awan masih saja enggan menumpahkan hujan. Membuat langit semakin gunda dan resah. Kacau balau dan porak poranda. Tahu mengapa ?

Mungkin Karena Awan merasa bahwa Air adalah satu-satunya miliknya yang paling berharga. Ya, Karena selain itu yang ada hanya debu dan gas semata. Makanya awan sering ogah melepaskan hujan. Untuk mendapatkannya susah loh. Awan harus terpanggang matahari selama berhari hari bahkan berbulan bulan.

Tapi langit semakin kacau. Semakin tidak tenang. Awanpun harus rela melepas hujan. Seluruhnya. Sederas derasnya. Dan setelah itu. Violaaaa..! Langit kembali terang benderang, Matahari tersenyum. Awan kembali memutih cerah. Burung-burung berterbangan. Angin berhembus semilir. Kenanga dan melati mewangi…., Segaaaarr Sekali. Bahagia Menanungi seisi langit dan bumi.

Mungkin, aku perlu belajar banyak dari Awan. Dari hujan. Bahwa terkadang untuk lebih bahagia, Kita perlu melepaskan sesuatu yang paling berharga sekalipun dalam hidup Kita. Karena memang, Ia harus dilepaskan. Seperti aku, yang mungkin memang harus melepasmu dari hidupku. Hatiku. Semoga hidupku, hidupmu jadi lebih bahagia. Amin….

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!